Rubrik Utama

Daerah

Terungkap, Sosok Haji Sasa, Tidak Hanya Memborong Warung Makan di Kaltim, Ia Juga Kerap Berbagi di Jakarta

Haji Sasa, saat menjadi narasumber pada acara talkshow di radio Gema Nirwana Samarinda Jum’at (13/08)

Kaltimtuah.id, SAMARINDA– Suriansyah belakangan ini menjadi perbincangan hangat publik kota Samarinda. Pria sapaan Haji Sasa itu tidak asing lagi bagi pemilik warung makan dan Pedagang Kaki Lima di kota Tepian.

Ya, Haji Sasa hampir setiap hari selalu mengejutkan publik Samarinda, khususnya pemilik warung makan dan pedagang kaki lima, ia kerap melakukan aksi berbagi dengan memborong dagangan pedagang kecil.

Aksi berbagi yang dilakukan H Sasa bahkan selalu viral di media sosial, beragam tulisan positif, mulai dari pujian hingga ucapan do’a memenuhi kolom komentar. Meski begitu, kebaikan yang dilakukan ketua Yayasan Mansyur Tuah tersebut tidak semuanya mendapat respon positif dari warga net, ada juga yang menanggapinya dengan sinis.

“Saya sudah biasa dihina orang, waktu saya masih belum memiliki apa-apa, juga sering mendapat hinaan, jadi semua itu tidak berarti bagi saya, yang penting apa yang saya kerjakan mendapat ridho dari Allah, karena kebaikan yang saya lakukan saya niatkan untuk almarhum orang tua saya” ujar Suriansyah pada acara talkshow yang berlangsung di Radio Gema Nirwana Samarinda Jum’at (13/08/2021).

Lebih lanjut, Suriansyah mengatakan bahwa dirinya tidak menduga apa yang ia lakukan itu viral di media sosial, apalagi dirinya tidak bermain Facebook maupun Instagram.

Bahkan Haji Sasa mengaku aksi berbagi yang ia lakukan tidak hanya di Kaltim, namun ia kerap berbagi dengan memborong jualan pkl dan warung makan di Jakarta dan kegiatan yang ia lakukan baru di publikasi sekitar tiga bulan terakhir, hal itu dilakukan setelah mendapatkan masukan dari salah seorang Ustad bahwa perbuatan baik harus diketahui orang, minimal mengajak orang agar bersama-sama berbuat baik.

“Saya memang tidak bermain Facebook maupun Instagram, hanya anak saya yang megang Facebook ataupun Instagram atas nama Yayasan Mansyur Tuah. Sebenarnya dari dulu saya sering berbagi, tapi baru tiga bulan terakhir ini kegiatan saya mulai di publikasikan, karena saya bertemu dengan seorang ustad, katanya perbuatan baik tidak boleh disembunyikan, karena ini mengajarkan orang pada kebaikan, dan Alhamdulillah, saat ini sudah banyak masyarakat yang berbuat baik dan ikut membantu sesama, dan ini yang kita harapkan, apalagi di Kaltim ini banyak pengusaha, kalau saya ada keperluan ke Jakarta saya sempatkan untuk berbagi” jelas Haji Sasa.

Haji Sasa, bersama seorang penyiar, usai mengisi acara Talkshow

Haji Sasa bercerita awal mula ia memborong makanan dan jualan pedagang kaki lima, waktu itu ia makan nasi kuning di salah satu warung makan di Samarinda, saat itu penjual nasi kuning mengeluhkan karena sepi pembeli akibat penerapan PPKM di kota Samarinda.

“Saat itu, saya makan di salah satu warung nasi kuning, sempat ngobrol sama pemilik warung, katanya semenjak pandemi, omset jualannya menurut drastis, akibat sepi pembeli, saya langsung berpikir untuk melakukan kebaikan dengan memborong dagangan pedagang kecil di Samarinda, mulai saat itu saya sering memborong warung makan dan lapak PKL, dan saya menargetkan selalu berbuat baik minimal sekali dalam sehari,”ucap Haji Sasa masih di acara talkshow.

Pria kelahiran Samarinda 11 Juni 1974 ini juga menceritakan awal mula ia mendirikan Yayasan Mansyur Tuah yang saat ini ia danai untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial, maupun pendidikan, seperti membantu orang yang tidak mampu, membantu anak yatim, melakukan bedah rumah dan membangun mesjid serta membangun pesantren gratis untuk anak-anak yang tidak mampu.

Jika kebanyakan orang mendirikan Yayasan hanya untuk mendapatkan popularitas atau ketenaran, namun beda halnya dengan Suriansyah, ia tidak menggunakan nama Suriansyah untuk Yayasannya, dia malah menggunakan nama orang tuanya untuk menamai lembaga amal yang ia kelola, lagi-lagi ia mengungkapkan jika apa yang ia lakukan lewat yayasannya ia niatkan untuk kedua orang tuanya yang telah lebih dulu menghadap sang pencipta.

“Pada tahun 2020 saya mendirikan Yayasan Mansyur Tuah, saya menggunakan nama orang tua saya, Mansyur nama ayah saya dan Tuah nama Ibu saya, awalnya yayasan ini saya danai untuk membantu kaum dhuafa, menyekolahkan anak yatim piatu, membangun masjid dan pondok pesantren di Kaltim maupun di Jawa. Tapi lama kelamaan yayasan yang saya dirikan ini bisa membantu banyak orang,”ucap Haji Sasa saat menjawab pertanyaan penyiar radio mengenai Yayasan Mansyur Tuah.

Haji Sasa berasal dari keluarga sederhana, ayahnya Mansyur bin Taman seorang tukang bangunan, sementara ibunya, Tuah binti Kastawi bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Masa kecil Haji Sasa dilewati dengan kehidupan yang serba kekurangan, bahkan ia putus sekolah di bangku SMP akibat kesulitan biaya.

Untuk membantu ekonomi keluarganya, Haji Sasa kemudian bekerja sebagai kuli bangunan, setelah beberapa tahun menjadi kuli dan dengan pengalaman yang ia miliki Sasa muda kemudian menjadi tukang, sebelum akhirnya menjadi pemborong bangunan.

Setelah menjadi pemborong bukan berarti kehidupan Haji Sasa membaik, ekonominya sering mengalami pasang surut, bahkan ia pernah terlilit utang ratusan juta rupiah.

“Saya pernah terlilit utang, semua yang saya punya habis saya jual, dan saya putus asa, dan sempat berpikir untuk bunuh diri di salah satu hotel di Samarinda”ungkapnya.

Kehidupan Haji Sasa mulai membaik saat bertemu seseorang yang baru ia kenal. Saat itu ia bercerita mengenai kehidupannya, orang itu menyarankan Haji Sasa untuk pulang ke rumahnya meminta ampun kepada orang tuanya dan mencuci kaki kedua orang tuanya.

“Semenjak itu, saya mulai merubah perilaku saya, dan saya betul-betul memperhatikan orang tua saya, hingga akhirnya sekitar tahun 2010 silam, saya mendapatkan keuntungan dalam melakukan jual beli tanah, dari keuntungan itu saya mulai usaha di bidang properti, setelah itu saya belajar nambang, perlahan-lahan kehidupan saya menjadi seperti sekarang” tutupnya.

Penulis: Redaksi Kaltimtuah.id

Editor: Fatham